Pada momen lebaran kali ini, aku berkunjung ke rumah kerabat yang selama ini sering terdengar ceritanya meskipun belum pernah ketemu secara langsung. Rumahnya dari depan tampak sederhana, tetapi terlihat bahwa rumah ini tidak lahir dari desain yang dikebut dalam semalam.
Ternyata betul, kedatangan kami disambut oleh pintu kayu yang berukir, pencahayaan yang baik, dan juga udara segar yang menemukan jalan masuk ke dalam rumah. Ditambah dengan kolang-kaling yang dicampur dengan sirup markisa original yang diekstraksi dari buahnya secara langsung, aku bisa merasakan ini adalah kunjungan yang akan berlangsung menyenangkan.
Di dekat ruang tamu, tampak dua rak buku, satu kecil, satu besar. Keduannya terlihat kokoh, tidak ada tanda-tanda debu, dan koleksi yang senada didominasi oleh buku-buku arsitektur. Saya punya keyakinan bahwa bapak pemilik rumah ini secara rutin merawat dan membaca jendela dunianya. Gestur, pakaian, dan perawakan tuan rumah memang seperti orang biasa yang saya temui pada umumnya, tetapi diriku menolak untuk percaya dugaan awal tersebut.
Muncul keinginan untuk bisa lebih mengenal dan mengetahui cerita Pak P dan Ibu R, cerita yang selama ini hanya terdengar melalui perantara dengan sudut pandang ketiga. Dengan lebih banyak mendengar dan menanyakan pertanyaan yang menarik, aku berlatih untuk bisa mengekstraksi kebijaksanaan yang masih terpendam, menunggu waktunya untuk muncul menampakkan dirinya.
Sebagai kapten kunjungan, adalah tanggung jawabku untuk bisa membuat kunjungan ini berkesan baik. Tanggung jawab itu dimulai dari detik pertama aku memulai pembicaraan. Awalnya terasa canggung, mengingat jarak usia yang ada. Syukurnya, kedua tuan rumah sangat terbuka dan bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan beriringan dengan rasa penasaran. Beberapa momen kunci berhasil terungkap dan menjelaskan mengapa rumah tersebut rasanya begitu nyaman, mengapa banyak buku yang terpelihara, dan mengapa Pak Pras dan Ibu Rita mengirim gelombang positif yang terasa semenjak langkah pertama saya masuk ke dalam rumah itu.
Ternyata, itu adalah kombinasi dari empati dari seorang dokter dipadukan dengan kepiawaian seorang arsitek yang telah mengajar selama 40 tahun, bayangkan 40 tahun! mengajar! Keduanya telah merasakan banyak senang dan gembira bersama, hidup bersama di negara-negara dengan bendera yang berbeda, bahkan ketika ribuan kilometer sempat memisahkan, semua berhasil dilalui, hingga akhirnya diriku bisa bertemu dan bertamu di momen hari raya tahun ini.
Sekarang sudah mendekati masa pensiun, apa yang ditanam puluhan tahun lalu sudah mulai dituai hari ini. Ketiga anaknya sedang berada di perantauan, mengejar impiannya masing-masing, merayakan hari raya dengan caranya masing-masing.
Aku juga dapat kesempatan untuk berkeliling rumah tersebut, ujung ke ujung, bawah, atas, dan ke bawah lagi. Diceritakan bahwa proses konstruksi belum sepenuhnya selesai. Akan ada pembangunan fase selanjutnya, sebuah roadmap untuk membangun 10 kamar yang dikhususkan untuk anak-anak yatim untuk bisa tinggal disana.
Aku tanya, berapa lama merancang semua ini? Dijawab dengan singkat oleh sang arsitek: “hahaha, ini iseng aja coret-coret sambil jalan”.
Luar biasa. Legend
Tuan rumah menekankan bahwa mindfullness dan kedekatan dengan Allah telah membantu mereka untuk bisa melihat dan menjalani kehidupan dunia dengan lebih tenang dan lebih mengalir.
Ada juga pesan singakt yang dititip untuk dibawa pulang. Sebuah pengingat untuk tidak menaiki tangga yang salah. Jangan sampai, ketika di puncak, kita baru sadar bahwa ini bukanlah puncak yang sebenarnya, bukan ketinggian yang kita inginkan, bukan juga tempat yang dicita-citakan. Jangan sampai ada Tuhan lainnya yang bernama tujuan. Terlalu asik dan tenggalam dalam kesibukan, sehingga lupa untuk melibatkan Allah, Tuhan yang sebenarnya, dalam setiap langkah yang diambil.
Yakin akan ketentuan, mengalir saat menempuh jalan, dijamin tidak akan salah tujuan.