Masih ada sekitar sepuluh pertandingan lagi sebelum akhirnya sebuah klub sepak bola kehilangan legendanya. Sebuah karir cemerlang yang dimulai sejak tahun 2017 akan segera berakhir. Berdansa di lapangan hijau telah membuat dirinya mendunia. Ia datang tanpa sambutan, beberapa saat lagi, Ia akan segera pergi dengan warisan kenangan kemenangan yang tak terbantahkan. Mohammad Salah namanya. Egyptian king julukannya.

Tidak salah lagi bahwa Salah adalah salah satu pemain yang memberikan banyak gol dan momen berkesan di Premier League (liga Inggris). Didatangkan dari klub liga Italia, AS Roma, Salah telah menunjukkan konsistensi permainan yang tidak main-main. Apakah Salah selalu benar? Tidak.

Setidaknya total ada 12 tendangan pinalti yang gagal dikonversi jadi gol. Mengalami kekalahan? Pasti pernah. Mendapat peluang emas tetapi tidak bisa mencetak gol? Pernah terjadi juga

Selain jumlah penghargaan yang diperoleh, angka keterlibatannya dalam gol dan assist dari musim ke musim, serta perasaan bahagia yang diberikan pada penggemarnya, apa yang membuat Salah benar-benar menjadi seorang legenda? Hipotesis saya: Salah tidak tenggelam dalam kesalahannya.

Mudah untuk mengatakannya, tetapi sedikit yang bisa benar-benar melakukannya. Salah menyadari bahwa kesalahan bisa terjadi, kesalahan adalah bagian dari permainan. Akan tetapi, selama pertandingan belum berakhir, Salah terus berlari, mengejar bola, mencari kesempatan, menciptakan keberuntungan, menjemput kemenangan. Salah melewati kesalahan dengan kekuatan bersama rekan-rekan.

Salah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak pertandingan sepak bola. Tidak salah lagi, perginya Salah dari Liverpool menjadi penanda berakhirnya sebuah era. Sebuah era yang menyenangkan untuk diingat dan untuk diceritakan kembali di kemudian hari.